12 Desember 2017 16:23 wib

Dosen Tafsir UINSU Medan, Doktor Faisal Hamdani membantah hasil temuan pemateri diskusi yang diadakan kelompok Studi Alwuran RESAM UINSU Medan. Sebeumnya diberitakan bahwa pemakalah yakni Yaser Arafat menyajikan materi tentang seni baca Alquran dan menyimpulkan bahwa tradisi pelantunan Al-Quran bergantung kepada para qaynah (pelacur) Arab pra Islam. 

Menurutnya, kesimpulan ini sangat dipaksakan alias tidak benar. Ada beberapa point yg bisa membatalkan kesimpulan pemateri yg menurutnya dikutip dari pendapat orientalis tentang pengaruh seni pelacur arab terhadap seni baca Alquran.

Beberapa dasar penolakan itu adalah:
1. Tidak mugkin ulama mengambil model seni/lagu para pelacur untuk membaca/melantunkan kitab suci. Di Indonesia saja, langgam lnggam Jawa pernah ditolak banyak ulama untuk dijadikan sebagai lagu Alquran apalagi lagu nada nanyian para pelacur Arab Jahiliyah.

2. Para pelacur itu bukan ahli seni yang pandai membuat seni suara. Diduga kuat mereka hanya mengutip/ menyadur lantunan seniman dan sastrawan arab yang pada waktu itu memang lagi berkembang.

3. Kehadiran Alquran untuk mengalahkan kekuatan daya seni budayawan-budayawan Arab saat itu,sehingga kaedah-kaedah bahasa Arab pada akhirnya tunduk pada Alquran itu sendiri bukan sebaliknya.

"Tidak mungkin ulama membaca Quran sambil mengingat pelacur sama dengan tidak mungkinnya kita membaca Alquran dengan memakai nada lagu India yg mengingatkan kita kepada para artis atau aktor India," demikian menurutnya. 

Pakar tafsir ini melihat referensi yang dikemukakan pemateri tersebut banyak dikutip dari kalangan orientalis walau ada beberapa sumber lain. Menurutnya, tesis ini sangat lemah karena tidak bersandar pada riwayat dan ulama besar Islam yang lebih otoritatif dan bisa dipercaya.

Dosen yang pernah menulis buku bantahan terhadap nikah Mut'ah ini menghimbau bagi pihak-pihak yang ingin mengkaji Alquran harus dilakukan dengan kejernihan berpikir. Sikap tendensius dan sekedar ikut-ikutan saja tidak mencerminkan insan akademis yang arif," demikian penjelasannya secara panjang lebar.

Terkait peristiwa ini, pihak RESAM sendiri telah mengajukan permohonan maaf kepada masryarakat dan pimpinan UINSU Medan dan menyatakan bahwa panitia berjanji untuk melakukan cek dan ricek supaya peristiwa yang cukup menghebohkan ini tidak terulang kembali.